Sial, aku sangat terlambat. Tidur tadi nampaknya membuatku sangat pulas sampai kebablasan. Harusnya aku terbangun subuh tadi. Aku berteriak kesal sambil terburu - buru mengganti baju dan ke kamar mandi sejenak. Kulihat jendela sebentar dengan memandangi sekitar memastikan matahari sudah muncul atau belum.
Seandainya aku tidak tertidur akan lebih cepat lagi untuk melihat bintang di langit. Sudah lama sekali aku tak melihat bintang kesukaanku ini di antara hamparan langit luas. Kesukaanku untuk melihat bintang ini sungguh aneh untuk orang lain. Kuhabiskan waktu untuk mengamati dan melihat bintang ini yang terlihat oleh orang lain lebih dari sekedar seperti bintang yang lainnya.
Ku kunci rumahku dengan terburu - buru dan kembali berteriak kesal karena sang surya yang hari ini sangat aku tak berharap kehadirannya terlihat mulai muncul. Aku mulai berlari ke puncak bukit dimana ku bisa melihat bintang ini dengan jelas. Ah sial, mataku mulai rabun untuk melihat sekitar karena kecapean berlari dari bawah ke atas bukit. Beruntung aku selamat sampai di puncak, tapi mataku semakin buram melihat kejauhan, sangat susah mencari letak bintang yang ku suka.
Berusaha kulihat dengan jelas, ah itu dia bintang yang ingin kulihat. Tepukan dipunggung tiba - tiba membuat konsentrasiku buyar, aku segera menoleh dan ternyata dia teman lamaku. Dia masih keliatan cantik sampai sekarang, terlihat dewasa semakin mempesona aura kecantikannya. Dia menanyakan kabarku, sekedar basa - basi yang bagus dan bertanya maksud tujuanku kesini. Dengan wajah cantiknya yang lucu ia menyuruhku pulang karena terlambat untuk sekedar melihat sunset. Dia tak mengerti apa maksudku.
Setelah dia pergi, aku mulai melihat bintang kesukaanku. Beruntung sekali masih nampak, masih dengan sinarnya yang berbeda (menurutku), masih tetap indah setelah sekian lama tak jumpa. Juga masih terlihat cantik bahkan melebihi teman lamaku tadi. Oh Tuhan, andai aku dapat berlama - lama melihatnya atau syukur - syukur bisa mendapatkannya. Aku mungkin manusia paling bahagia untuk sepersekian detik.
Akhirnya bintang itu pun hilang seiring sang surya meluncur ke atas.
Kecoa Cuek Bebek
Jumat, 21 Agustus 2015
Bintang
Kamis, 06 Agustus 2015
AC Milan dan aku
Pembicaraan tentang AC Milan selalu bisa membawa saya kepada masa kecil yang riang, namun penuh “sengketa". Dan itulah kenapa saya berhutang banyak pada AC Milan. Tanpa klub ini, saya mungkin bukan hanya akan semakin terlambat, tapi bahkan mungkin tak akan pernah mengerti akan sepakbola.
Tak seperti kebanyakan bocah laki-laki lain, masa kecil saya nyaris tak bersentuhan dengan bermain sepakbola. Semasa duduk di bangku Sekolah Dasar dahulu, kebanyakan waktu luang saya untuk menonton teman - teman, bukan untuk memainkannya bersama. Walau pun ada kesempatan berlarian menendang bola dengan teman-teman sebaya, saya selalu diplot sebagai seorang bek. Sialnya, dibandingkan dipuji, saya lebih sering dimarahi. Saya ingat apa yang selalu mereka teriakan kepada saya, “Kalau ada bola tendang aja, ga usah banyak gocek!”. Tapi apa boleh buat, emang skill saya amat parah.
Teman-teman yang sok tau sepakbola memperkenalkan saya dengan kesebelasan - kesebelasan yang “selayaknya” didukung. Mereka gemar memerintah saya untuk mendukung satu kesebelasan tertentu. Seingat saya, mereka memberi sugesti untuk mendukung Barcelona dengan Ronaldinho-nya ( waktu saya SD, messi masih ingusan :D ), Chelsea yang baru aja di labeli 'Roman Emperor', Inter waktu 3 tahun berturut - turut scudetto atau Persib dengan goyang jaipong ala Ridouane Barkaoui.
Namun entah bagaimana caranya, sugesti-sugesti seperti inilah yang memantik rasa penasaran saya terhadap AC Milan.
Saya mengingat suatu hari. Waktu itu bertepatan dengan menjelangnya final liga champion tahun 2007, teman - teman membicarakan tim yang akan tampil malamnya: Liverpool dan AC Milan. Buat anak yang masih ingusan kayak kami, pembicaraan kami di mata orang dewasa terlalu konyol dan mengada - ada. Bahkan bagi orang yang tak terlalu suka sepakbola pun.
Mereka kebanyakan lebih memilih Liverpool ketimbang AC Milan karena faktor keajaiban Istanbul 2 tahun sebelumnya. Hanya saya yang berani bertaruh, AC Milan akan memenangkan pertandingan. Asal kalian tau, waktu itu saya lebih suka sangara bukan klub, jadi prediksi tadi pun hanya sekedar iseng. Namun iseng itu juga bersejarah bagi perkenalan saya dengan AC Milan. Malamnya lewat layar televisi, pertama kalinya saya menyaksikan Fillipo Inzaghi. Saya ingat, waktu itu Andrea Pirlo berduet dengan Gennaro Gattuso. Lucunya, bukan Kaka yang membikin saya jatuh cinta kepada Milan. Buat saya, Kaka adalah tokoh yang sama saja seperti pemain yang lainnya kala itu.
Sepertinya ada ketertarikan diri saya terhadap AC Milan, seakan - akan detik itu pun saya menasbihkan diri jadi Milanisti; tanpa tau alasan nya. Mungkin ini yang di namakan cinta pandangan pertama? Dan saya baru mengerti istilah 'cinta itu buta' dari AC Milan.
Malam itu pun, Milan berhasil merebut gelar si kuping besar dan di musim itu saya semakin menggemari mereka. Pertandingan - pertandingan AC Milan yang lain pun mulai pantang untuk dilewatkan. Berita-berita menyoal I'll Diavolo Rosso selalu saya lahap pertama kali sebelum membaca berita lainnya. Sampai almarhum bapa saya pun mulai marah - marah karena tingkah saya yang selalu begadang atau bangun di malam hari demi AC Milan.
2 tahun terakhir, saya sempat berpikir apakah saya harus berhenti atau tetap mendukung Milan. Saya mulai di olok - olok oleh teman karena keterpurukan AC Milan. Dan sejak saat itu, saya mulai menggemari beberapa kesebelasan yang lain. Saya sempat 'selingkuh' dengan Borussia Dortmund era Juergen Klopp karena gaya pressing ketatnya yang fleksibel dan Arsenal dengan permainan 'wengerball' ( musim kemarin, arsenal bukan memeragakan tiki - taka tetapi wengerball, lebih jelasnya tanya aja Arsene Wenger :D )
Lama-kelamaan, saya mulai paham kalau cinta tak bisa di 'pindah tempatkan' begitu saja. Tanpa prestasi pun, Milan adalah Milan. Dan pada akhirnya toh saya sampai sekarang tetap mengikrarkan diri sebagai tifosi Milan sejati.
Saya pikir, jika anda mencintai sebuah klub bukan karena pemain, sejarah dan prestasinya. Berarti anda telah menemukan diri anda di klub itu.